Fakta Menarik Tentang Pohon Bajakah

By | Agustus 15, 2019 Leave a Comment
Nama Bajakah, tanaman liar dari hutan Kalimantan, tiba-tiba menjadi perhatian setelah tiga siswa SMA Negeri 2 Palangkaraya yang menemukan obat kanker dengan tanaman itu.

Image from doktersehat.com

Akar tanaman itu sendiri telah digunakan secara lokal selama beberapa generasi, bahkan salah satu warga yang memiliki kanker payudara stadium empat telah merasakan manfaat penyakit ini.

Namun, di balik penemuan itu, ada kekhawatiran dari guru dan siswa, yang takut bahwa banyak orang yang akan memburu pohon itu sehingga dapat merusak hutan di Kalimantan Tengah.

Berikut adalah fakta di balik khasiat akar tanaman bajakan:

1. Tumbuhan hidup di hutan.

Tumbuhan ini hanya dapat ditemukan di dalam hutan, salah satunya di hutan yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Palangkaraya.

Pohon itu tumbuh dengan cara merambat walaupun memiliki batang yang kuat dan cukup besar. Ketinggian pohon ini bisa mencapai ketinggian lebih dari 5 meter ke atas pohon lain.

Akarnya juga menusuk di dasar aliran air lahan gambut. Pohon ini hanya bisa hidup di lokasi yang subur di mana tidak banyak sinar matahari masuk, ditutupi oleh hutan yang rimbun.

Sepintas, pohon itu seperti pohon biasa, sulit dibedakan dari tanaman lain.

2. Dianggap sebagai tanaman mistis.

Bajakah adalah tanaman khas Kalimantan Tengah yang telah lama digunakan sebagai obat kanker keturunan oleh nenek moyang suku Dayak.

Pengawas SMAN 2 Palangkaraya, Herlina, mengatakan bahwa belum pernah ada penelitian ilmiah tentang tanaman bajakan.

Sampai ada asumsi dari masyarakat setempat yang mengidentifikasi tanaman yang sehat dan mistis.

"Tumbuhan ini selalu diidentikkan dengan mistisisme. Namun, berdasarkan hasil tes laboratorium kami, kandungan dalam tanaman ini memang dapat menyembuhkan kanker," kata Herlina seperti dikutip Kompas.com dari AIMAN, Rabu (13/8/2019) pagi.

3. Memiliki antioksidan.

Kayu Bajakah adalah tanaman yang digunakan sebagai obat kanker oleh siswa SMAN 2 Palangkaraya.

Kepala Laboratorium Bio Kimia dan Molekuler Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat (FK ULM) Eko Suhartono tidak menyangka, ketika ditawari meneliti kayu bajakan ada banyak kandungan senyawa antioksidan dalam kayu bajakan yang dapat berfungsi melawan sel kanker.

"Hasil penelitian di lab, yang jelas ini memiliki senyawa yang bisa bertindak sebagai antioksidan yang juga bisa bertindak sebagai anti kanker,"

4. Sembuhkan kanker payudara stadium empat.

Daldin, penduduk asli suku Dayak di Kabupaten Gunung Mas, Palangkaraya, keluarga dengan kanker payudara stadium empat, mengatakan bahwa ibunya menderita kanker payudara stadium empat selama lebih dari 10 tahun.

Ibunya divonis menderita kanker payudara stadium empat pada tahun 1970-1980-an, menyebabkan payudaranya keluar nanah.

Bahkan, dokter meminta ibunya untuk segera dioperasi. Namun, sang ibu menolak dan memilih untuk pulang.

Daldin mengatakan, ibunya bisa pulih sepenuhnya setelah mengonsumsi air matang dari akar tanaman bajakah yang dicari ayahnya di tengah hutan.

"Hanya dalam dua minggu reaksi, satu bulan benar-benar pulih," kata Daldin ketika diwawancarai secara eksklusif oleh Aiman ​​Witjaksono, pembawa acara program AIMAN di Kompas TV, Selasa (13/8/2019).

5. Takut akan eksploitasi hutan.

Setelah tiga SMA Palangkaraya 2 berhasil menemukan obat untuk penyembuhan kanker dari tanaman bajakan dan menjadi juara dunia di Seoul, Korea Selatan, muncul kekhawatiran dari guru bahwa banyak orang akan memburu pohon itu sehingga dapat merusak hutan di Tengah Kalimantan.

Awalnya Helita menolak untuk diwawancarai, apalagi mengungkapkan asal lengkap dan nama kayu yang jelas yang disebut baja.

Dia tidak ingin penemuan itu berdampak pada perusakan hutan di Kalimantan Tengah.

Bahkan, dia khawatir akan ada eksploitasi hutan besar-besaran di Kalimantan Tengah, terutama bagi mereka yang memiliki tujuan komersial.

"Saya tidak ingin ini menjadi masalah, terutama dalam kasus eksploitasi hutan Kalimantan Tengah," kata Helita ketika ditemui Kompas.com di SMA Negeri 2, Palangkaraya.

Sumber : kompas.com

0 komentar:

Posting Komentar